Tuesday, 30 April 2013

Macam - macam Nama OS Android dari Versi 1.5 sampai 3.3

Android dirilis pada tanggal 5 November 2007. Android bersama Open Handset Alliance menyatakan mendukung pengembangan open source pada perangkar mobile. Di lain pihak, Google merilis kode -kode Android di  bawah lisensi Apache, sebuah lisensi perangkat lunak dan open platform perangkat seluler.


Mungkin kebanyakan orang tidak memperdulikan nama - nama OS Android, padahal sebenarnya nama - nama tersebut sangat unik karena di ambil dari jenis - jenis makanan. Contohnya seperti Ginger Bread yang artinya roti jahe, Ice Cream Sandwich yang artinya roti isi es krim dan masih banyak lagi. Dalam penulisan ini saya akan memperkenalkan jenis - jenis OS android beserta fitur - fitur nya kepada anda.

Berikut sejarah OS Android mulai dari awal di rilis sampai yang paling baru.


CupCake (Android 1.5)
seri ini hasil dari pengembangan seri sebelumnya yaituseri android 1.1 yg diluncurkan pada bulan february tahun 2009.. spesifikasi cupcake sebagai berikut:
  • Mempunyai kemampuan merekam dan menonton video melalui camcorder.
  • Upload video ke youtube dan upload gambar ke picasa.
  • Aplikasi baru soft-keyboard dengan fungsi text prediction.
  • Bluetooth A2DP dan AVRCP support
  • Mempunyai kemampuan otomatis terhubung ke perangkat Bluetooth dengan jarak tertentu.
  • Widget baru dan folder dapat dikumpulkan di layar home.
  • Perpindahan layar secara otomatis
Donut (Android 1.6)



Android kemudian merilis versi terbaru yakni android 1.6 disebut dengan Donut pada 30 april 2009 dengan kemampuan:
  • Peningkatan pada android market
  • Integrasi kamera, perekam video dan tampilan galeri
  • Aplikasi galeri yang baru memungkinkan pengguna memilih banyak foto untuk dihapus. Aplikasi voice search yang diperbaharui menjadi lebih cepat merespon dan itegrasi dengan aplikasi yang lain termasuk kemampuan mencari kontak.
  • Aplikasi search yang ditingkatkan untuk bisa mencari bookmarks, history, kontak, dan web dari layar home
  • Peningkatan dukungan teknologi untuk CDMA/EVDO.802.1x, VPNs, dan mesin text to speech Mendukung resolusi layar WVGA
  • speed inprovement in searching and camera applications
  • perbaikan kecepatan di aplikasi pencarian dan aplikasi kamera

Eclair (Android 2.1)

setelah Donut menyusul kemudian Eclair ver 2.1 dengan kemampuan:
  • Optimalisasi kecepatan hardware
  • Mendukung lebih banyak ukuran layar dan resolusi layar
  • Revamped UI, User interface baru pada browser dan dukungan html 5
  • Daftar kontak baru, Rasio putih-hitam yang lebih baik untuk backgrounds.
  • peningkatan aplikasi Google Maps 3.1.2
  • Dukungan untuk Microsoft Exchange
  • Mendukung Falsh untuk kamera, Digital Zoom.Peningkatan pada aplikasi virtual keyboard, Bluetooth 2.1, Live Wallpapers.


Froyo (Android 2.2)


Versi android teranyar yang dikeluarkan oleh Google... dengan versi 2.2 . memiliki kemampuan:
  • Optimalisasi kecepatan dan performa Android OS
  • Integrasi chrome v8 javaScript kedalam aplikasi browser
  • Peningkatan dukungan Microsoft Exchange, Peningkatan aplikasi luncher dengan shotcuts menuju aplikasi phone dan browser
  • USB tethering dan WiFi hotspot functionality.
  • Penambahan pilihan untuk menonaktifkan akses data jaringan mobile
  • Aplikasi android market yang telah diperbaharui dengan fitur update otomatis.
  • Quick switching between multiple keyboard languages and their dictionaries.
  • Voice dialing dan berbagai kontak melalui bluetooth
  • mendukung file upload di aplikasi browser
  • dukungan terhadap aplikasi Adobe Flash 10.1

Gingerbread (Android 2.3 dan 3.3.7)

Inilah Fitur-fitur Yang Dimiliki Oleh Android Gingerbread:

NFC (Near-Field Communication)
Aplikasi NFC akan tersedia di dalam Gingerbread, ini memungkinkan produsen gadget untuk membuat perangkat yang bisa digunakan untuk transaksi nirkabel alias dompet elektronik.

Dukungan pada Kamera Depan
Aplikasi kamera di Android 2.3 sudah mendukung kamera depan sejak awalnya. Artinya produsen seperti HTC, yang salah satu versi ponsel Androidnya sudah memiliki dua kamera, bisa langsung memasang dua kamera di ponsel Android.

Ponsel Internet
Kemampuan teleponi via internet, atau Voice over IP, akan didukung pada tingkat sistem operasi. Tanpa aplikasi tambahan, pengguna sudah bisa membuat panggilan VoIP, tentu dengan setting SIP manual.
Tampilan yang Lebih Rapih Tampilan antarmuka dari Gingerbread konon bakal makin rapih dan mudah dipelajari. Menu dan tema visual diperbaiki oleh Google untuk memudahkan navigasi.
Manajemen Aplikasi Akan tersedia shortcut untuk sebuah aplikasi bernama Manage Applications. Di sini pengguna bisa melihat berapa besar memori yang diserap oleh masing-masing aplikasi yang sedang berjalan.
Input Teks Lebih CepatKeyboard Android Gingerbread dijanjikan akan lebih baik, dengan beberapa perubahan lokasi dan bentuk. Selain itu ada kemampuan memperbaiki salah ketik lewat kamus bawaan.
Copy PasteKemampuan untuk memilih (select) lalu melakukan Copy, Cut atau Paste di Gingerbread menjadi semakin baik. Cara penggunaannya mirip yang dilakukan Apple pada iOS, lengkap dengan marker yang bisa digeser sebelum menyalin.


HoneyComb (Android 3.0 , 3.1 dan 3.3)


fitur baru yang ada di OS dengan gambar lebah biru ini.

 Ada efek grafik 3 dimensi yang bisa bekerja dengan mulus walaupun untuk aplikasi dengan kebutuhan kinerja grafis tinggi. Efek 3D ini juga tersedia untuk aplikasi, wallpaper, dan grafik lainnya.
Antarmuka pengguna (UI) Honeycomb didesain ulang khusus untuk tablet dengan mememperhitungkan ukuran layar yang lebih besar daripada OS Android sebelumnya yang didesain untuk layar smartphone ukuran maksimal 4 inci. Layar muka Honeycomb juga memakai papan menu yang selalu nampak di bagian bawah layar. Papan ini berisi notifikasi, status sistem, dan navigasi di layar selain tampilan jam, mode redup, dan lain-lain. Sementara itu tampilan papan aksi di bagian atas akan tergantung pada aplikasinya.
Multitasking yang lebih mudah dengan adanya peluncur aplikasi yang baru dijalankan (recent apps). Tool ini terdapat di sistem bar sehingga selalu terlihat dan memudahkan untuk berpindah antaraplikasi tanpa perlu masuk ke dalam menu.

Papan ketik virtual yang bersahabat dan mudah digunakan. Layarnya lebih alami dan lebih besar dengan meniru tampilan papan ketik notebook/laptop dan bukan seperti papan ketik ponsel.

Copy/paste yang lebih baik dengan tambahan opsi menu untuk operasi manipulasi teks. Papan menu di bagian atas akan menyediakan berbagai opsi seperti cut, copy, copy ke clipboard, share, paste, pencarian ke web, hingga pencarian lokal.

Peningkatan koneksi termasuk wifi dan Bluetooth untuk tethering. Pemindaian atas wifi ditingkatkan sehingga bisa mempercepat penyambungan koneksi sementara dengan Bluetooth pengguna bisa melakukan tether dan membagi koneksinya dengan perangkat lain termasuk dukungan ke perangkat sederhana yang tidak memiliki antarmuka pengguna.

Penjelajahan web anonim juga didukung dalam Honeycomb. Pengguna bisa menjelajah web secara privat termasuk mode incognito untuk melakukan pencarian di web secara diam-diam. Selain itu browsernya juga diubah dari multi-window menjadi tabulasi dengan halaman terbuka akan ditampilkan pada papan yang berada di bagian atas layar. Sinkronisasi bookmark juga tersedia berkat opsi akun Google untuk segala aktivitas.

 Aplikasi yang sudah ada juga akan tetap bekerja baik meski aplikasi yang tersedia di Android Market saat ini didesain untuk smartphone yang memiliki ukuran layar lebih kecil. Tombol fungsi menu yang ada di ponsel Android sekarang digantikan dengan menu Action Bar. Ada juga opsi bagi developer untuk membuat tata letak bagi layar yang lebih besar dan menambahkannya pada aplikasi yang sudah mereka buat.

Pengorganisasian email lebih mudah dengan tampilan dua bagian layar. Ini seakan meniru tampilan pada iPad yang bekerja dengan mengesankan. Pengorganisasian menjadi lebih mudah termasuk adanya fitur sinkronisasi email.

Widget akan lebih interaktif dengan fungsi yang lebih beragam dan tidak hanya pasif menunggu informasi dari penguna. Gerakan tangan dan jari juga bisa digunakan untuk menggulung layar secara 3D untuk menyusun konten termasuk operasi navigasi yang lebih menyenangkan.



sumber : http://www.teknokers.com/2011/02/jenis-versi-os-android-perbedaan-serta.html
buku Android karangan Nazzrudin Safaat

Saturday, 27 April 2013

Advan Android s5


Meskipun terkesan meniru, gadget ini mampu memuaskan para pengguna yang mendambakan smartphone berlayar lebar dengan harga terjangkau.  
Kesuksesan vendor Samsung menjual jutaan unit smartphone berlayar besar (Galaxy Note) telah membuat banyak produsen lain meniru. Namun, agar bisa dijual dengan harga murah, aneka gadget serupa ini hadir dengan featureyang lebih sedikit. Inilah yang diusung oleh Vandroid S5 dari Advan.  
Vandroid S5 ini menurut saya cukup setara dengan OneScribe ZA987 dari Zyrex yang muncul hampir bersamaan. Layar kapasitif 5,3” resolusi 480x800 pixel di sini terlihat cukup kontras dan tak kalah dengan produk serupa dari merek ternama. Advan menyebut Vandroid S5 sebagai “Smart Note” yang dimaknai sebagai gadget pintar dengan beragam feature yang mendukung aktivitas mobile. Hal ini tampaknya lebih merupakan kampanye untuk mengedukasi konsumen.  
Smartphone yang ditenagai prosesor MediaTek MT6575 1GHz (ARM v7) plus RAM 512MB ini sebenarnya tidak terlalu istimewa dan masih seperti kebanyakan smartphone layar besar lainnya. Proses booting sistem yang terbilang cepat menjadi keunggulan Vandroid S5. Di sini juga tersedia memori internal 4 GB. Sayangnya hanya tersedia kapasitas 2,2 GB yang bisa dipakai. Itu pun hanya oleh sistem/aplikasi alias tak bisa diakses langsung oleh pemakai. Walhasil, pengguna mesti menambahkan kartu micro-SD (maksimal 32 GB) sebagai storageuntuk menyimpan data.  
Proses penjelajahan menu di Vandroid S5 dengan sistem Android 4 tergolong cukup mulus karena adanya GPU PowerVR SGX531 untuk menangani sisi grafis. Vandroid S5 juga menyertakan enam sensor penting yang tidak disediakan kompetitor lain. Dengan semua kelengkapan tersebut, smartphone ini bisa dimiliki dengan harga kurang dari Rp2 juta. Hal ini menjadikannya produk alternatif menarik di jajaran smartphone layar besar masa kini.
Mungkin Vandroid S5 belum sesempurna smartphone sejenis dari merek populer. Namun untuk sekadar menjalani aktivitas sehari-hari produk ini sudah mencukupi. Dengan harga lebih kompetitif, bahkan dibanding merek lokal lain, tentunya smartphone ini merupakan pilihan alternatif menarik untuk yang berdana terbatas.

Movie Review: Sinister (2012)



Sebuah ambisi yang besar akan memberikan anda tekanan yang besar pula. Hal tersebut akan semakin berat ketika anda memiliki masa lalu yang cukup cemerlang, namun kini berada dalam kondisi sebaliknya. Ellison Oswalt (Ethan Hawke), seorang novelis yang selalu mengangkat tema kejahatan nyata yang pernah terjadi sebagai bahan bukunya, bersama keluarganya pindah ke sebuah rumah yang memiliki cerita masa lalu kelam, yang pada akhirnya membawa sebuah bencana besar bagi keluarganya.


Dibuka dengan satu keluarga yang terdiri dari empat orang, mati perlahan dengan tergantung di pohon, anda akan langsung menyaksikan seorang gadis kecil bernama Ashley (Clare Foley), anak perempuan dari Ellison dan Tracy (Juliet Rylance), sedang asyik menggambar di dinding kamar barunya, dan menolak untuk membantu mengemasi barang kedalam rumah baru mereka. Ya, sebenarnya Ashley tidak ingin pindah, karena itu hanyalah tuntutan pekerjaan dari ayahnya.


Benar, rumah tersebut adalah objek terbaru Ellison untuk proyek terbarunya, dengan kasus utama hilangnya seorang anak bernama Stephanie. Singkat cerita, Ellison menemukan sebuah kotak di loteng rumah barunya, yang berisikan sebuah proyektor dengan beberapa cuplikan super 8 yang masing-masing memiliki label, dengan jarak tahun yang cukup besar. Ya, itu adalah cuplikan tentang proses pembunuhan sadis beberapa keluarga. Semua semakin menarik ketika Ellison menemukan sesosok setan disalah satu cuplikan tersebut, sedang menonton proses pembunuhan, tanpa terlibat didalamnya.


Pertama, sejak awal saya sudah disuguhkan satu tokoh yang berhasil membuat saya tertarik dengan permasalahan yang ia hadapi. Ellison, pria yang tidak santai dan memiliki sebuah aturan khusus untuk istri dan kedua anaknya, Ashley dan Trevor (Michael Hall D'Addario). Tidak boleh ada yang masuk kedalam ruang kerjanya, tidak satupun, dan itu memberikan impresi bahwa karakter satu ini benar-benar dalam tekanan yang sangat besar dengan buku barunya, namun anehnya anda akan menilai bahwa ia adalah pria yang kuat.

Scott Derrickson sukses mengikat saya sejak awal film bergulir dengan cuplikan pembunuhan yang singkat itu. Dia berhasil menciptakan sebuah kasus yang jelas dengan kadar daya tarik yang besar. Konflik utama memiliki tekanan yang besar, kemudian hadir konflik pendukung yang berhasil menambah beban dari konflik utama. Tekanan dari sang istri, masa depan keluarganya jika buku itu gagal sukses, dan anaknya Trevor yang terus mengalami mimpi buruk, semua bekerja dengan baik.

Memang, anda tidak akan menemukan sesuatu yang baru dalam cara film ini menyampaikan ceritanya. Ya, cara klasik, suasana gelap disertai score yang soft membentuk kondisi mencekam, kemudian disertai rasa cemas akan kehadiran sosok makhluk halus disekitar karakter utama dengan bunyi-bunyi aneh. Tapi, kali ini itu semua berhasil membuat saya takut. Dengan dibantu unsur mockumentary, film ini sukses membuat saya untuk terus menjaga agar saya tetap cemas. Derrickson, anda berhasil!


Mungkin untuk beberapa expert dibidang film horror apa yang Sinister tawarkan akan terkesan standar, saya juga sedikit merasakan itu, namun anehnya synopsis dari cerita yang disusun C. Robert Cargill dan Derrickson ini sangat menarik bagi saya. Ya, ini adalah film pertama dari Derrickson yang saya tonton, sehingga saya tidak kenal “cara” yang ia pakai. Begitupula dengan status film ini yang bukan franchise, semakin menambah misteri yang dimiliki film ini, meskipun ada Jason Blum dibelakangnya.

Yang paling menarik dari film ini adalah bagaimana Derrickson mengajak saya untuk ikut merasakan tekanan dari Ellison lewat video-video yang ia putar satu per satu. Ya, ini yang paling menarik, karena dengan video tadi Derrickson menghadirkan clue-clue baru yang disuntikkan secara perlahan, semakin menambah beban dari tokoh utama, namun juga menjadikan saya terus bertanya-tanya sembari mencoba mengaitkan hubungan antar clue tadi. Hmm, saya terbawa suasana, merasa seolah ikut berjalan bersama Ellison mengitari rumah misterius itu dengan dikelilingi suasana tenang yang mencekam. Dan, ketika sosok misterius itu hadir, Derrickson berhasil membuat saya terkejut, dan juga merinding. Momen kejut yang diberikan memang klasik, namun tidak murahan.

Faktor utama keberhasilan sebuah film horror bagi saya apakah film tersebut berhasil menakut-nakuti saya sepanjang ia hadir dihadapan saya. Sinister berhasil melakukan itu. Sangat banyak momen dimana film ini mampu membuat deru nafas saya sedikit bergerak cepat dengan tangan yang secara reflek memutar scroll mouse untuk mengecilkan volume ketika saya menganggap sosok misterius itu akan hadir. Ya, sangat banyak, dan anda akan terus waspada sepanjang film.

Pusat film ini jelas adalah Ethan Hawke, dan beruntungnya ia mendapatkan karakter yang memang telah menjadi salah satu kelebihannya, tenang dan berkarisma, seperti menyaksikan Tom di film The Woman in the Fifth. Ethan berhasil menjadikan Ellison sebagai seorang penulis yang dihormati, namun juga seorang ayah dan suami yang memiliki ambisi sangat besar.


Overall, Sinister adalah film horror yang memuaskan. Anda tidak akan mendapatkan sesuatu yang baru dan special dari film ini, karena apa yang ia miliki dapat anda temukan di film horror lainnya. Cerita yang mudah ditebak, tidak menghilangkan daya tarik film ini berkat kinerja efektif yang dihadirkan Scott Derrickson. Atmosfir horror sangat besar, disertai momen-momen menakutkan yang sangat tricky. Sinister adalah film horror yang akan membuat anda terus cemas.